#1 Bunda, Mari Bersamaku Menghafal Al-Qur'an
August 12, 2022Bismillah...
*Bisa jadi yang mendengarkan (mengikuti), lebih baik dari yang menyampaikan*
Sebelumnya, ijinkan saya menyampaikan bahwa saat ini, posisi kita sama-sama belajar dalam proses memperbaiki niat, pemahaman, dan ikhtiar kita dalam menjalankan rukun iman kita yang ke tiga: Iman Kepada Kitab Allah. Dalam hal ini dengan lebih rinci bisa disebut dengan Mengimani dan Mencintai Al-Qur'ān.
Dimana dalam hal ini, bisa jadi Ummahaat yang mendengarkan (mengikuti) ini, lebih baik daripada saya (yang menyampaikan). Maka kali ini, ijinkan saya berbagi bersama untuk saling menguatkan ikhtiar dan membuktikan *cinta kita kepada Al-Qur'ān* yang sudah kita tanamkan di hati.
Bentuk-Bentuk Interaksi dengan Al-Qur'ān
(Dr. Yusuf al-Qaradhawi):
1. Dari segi Menghafal, Membaca dan Mendengar
2. Dari segi Memahami (Melalui Tafsir)
3. Dari segi Mengikuti, Mengamalkan dan Mengajarkan (Dakwah)
Jika dilihat dari interaksi ini, maka posisi yang akan kita bahas adalah interaksi yang pertama, yaitu Menghafal Al-Qur’an.
Di antara kekhususan Al-Qur'ān yang perlu kita yakini, bahkan perlu kita kuatkan meyakini dan memahaminya adalah terkait 2 ayat berikut:
1. Allah yang Memudahkan Al-Qur’an
(وَلَقَدۡ یَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرࣲ)
Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur`ān untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
[Surat Al-Qamar 17, 22, 32 & 40]
2. Allah turunkan Al-Qur'ān, bukan untuk membuat susah.
(مَاۤ أَنزَلۡنَا عَلَیۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لِتَشۡقَىٰۤ)
Kami tidak menurunkan Al-Qur`ān ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah;
[Surat Tha-Ha 2]
Karena tujuan diturunkannya Al-Qur'ān adalah agar KEBERKAHAN AL-QUR'ĀN benar-benar NYATA melimpahi kehidupan kita. Dengan cara mentadabburinya melalui akal sehat dan hati yang bersih.
Kitab (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka tadabburi (menghayati) ayat-ayatnya dan untuk diambil pelajarannya oleh orang-orang yang memiliki akal.
Mari kita kembali memaknai apa sebenarnya Al-Qur’an, karena bisa jadi yang membuat kita futur dari menghafal adalah karena kita tidak pernah merenungi definisi Al-Qur’an yang kita hafal. Ustadz Saihul Basyir dalam bukunya, Kun Bil Qur'ani Najman, menyebutkan ada 7 poin yang membatasi hakikat ilmiah Al-Qur'ān:
1️⃣ Firman Allah, كلام الله
Agungnya Al-Qur'ān terwujud karena wujud agungnya Allah Ta'ala. Keagungan keduanya tidak bisa dipisahkan.
Kata Allah dan Al-Qur'ān diiringi dg kata المجيد (Al-Majiid) yang artinya Maha Mulia diulang 2 kali dalam Al-Qur'ān.
2️⃣ Berangsur-angsur (bertahap)
Di antara hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur adalah agar Allah menguatkan hati Rasul-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan langkahnya dalam berdakwah (QS. Al-Furqon 32). Al-Qur'ān hanya merupakan bagian sedikit dari seluruh firman Allah subhanahu wa ta’ala (Qs. Al-Kahfi 109 dan Luqman 27).
3️⃣ Malaikat Jibril alaihissalam yang Membawa Al-Qur'ān kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, untuk membacakan ayat demi ayat selama 23 tahun, bahkan direview dan dimurajaahkan kepada Malaikat setiap tahun sekali di bulan Ramadhan, dan di tahun wafatnya Nabi shallallahu alaihi wasallam, dimurajaahkan dua kali di bulan tersebut. Lalu kita yang baru Menghafal 3 atau 4 tahun sudah merasa lelah?
4️⃣ Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang Menerima Al-Qur'ān sebagai sumber hidayah dan penutup seluruh risalah sebelumnya, menjadi penyempurna yang paling paripurna. Ia adalah Kitab yang menghimpun segala sesuatu, dan akan memberi kita segala sesuatu, jika kita bersungguh-sungguh memberikan segala-galanya untuknya.
Hingga, kesempurnaan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam semakin kita paham ketika beliau disebutkan dengan akhlaknya adalah Al-Qur’an.
Sebagaimana tidak akan ada lahir Nabi setelah beliau shallallahu alaihi wa sallam, tiada yang lebih sempurna kenabian sekaligus kemanusiaannya dibanding beliau _shallallahu alaihi wa sallam_.
5️⃣ Tak terbilang yang menyampaikan; bagaimana satu ayat yang sampai kepada kita persis seperti saat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengucapkannya.
Mutawatir: apa yang diriwayatkan oleh sekelompok orang dengan jumlah yang tidak terbatas, dimana mustahil bahwa apa yang mereka riwayatkan tersebut merupakan kebohongan. Lalu kelompok kedua meriwayatkan dari kelompok pertama persis sama, tidak ada yang berubah dari awal kabar sampai akhir, baik secara lafaz atau pun makna. Begitu seterusnya hingga Al-Qur'ān sampai kepada kita.
Para sahabat, tabiin, dan generasi-generasi setelahnya hingga sampai kepada kita. Semuanya berjuang untuk menyebar luaskan Al-Qur'ān ini ke seluruh penjuru dunia tanpa terkecuali. Demi menegakkan huruf demi huruf, ayat demi ayat dan Surah demi Surah yang ada dalam Al-Qur'ān al-Kariim.
6️⃣ Mukjizat di semua bagiannya; dari sisi kefasihan dan kedalaman bahasanya, dari sisi berita tentang masa lalu, dari sisi kejadian dan peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang, sisi mukjizat yang hingga hari ini terus berkembang (mukjizat ilmiah) sehingga menjadi bukti akan kebenaran Al-Qur'ān, yang tidak mengalami perubahan sejak pertama turun dari Lauhul Mahfuz.
Buya Hamka: Mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, bukanlah mukjizat untuk dilihat mata / pancaindra, tetapi untuk dilihat dengan hati dan akal pikiran.
Rasakan dan bayangkan dalam pikiran bahwa setiap huruf yang kita hafal dan ucapkan merupakan mukjizat terbesar, agar kita menghebat dengannya, dan akan makin hina tanpanya.
7️⃣ Membacanya berarti ibadah dan tertulis di dalam mushaf.
Tidaklah seorang pun mampu membaca Al-Qur'ān dengan sebenar-benarnya bacaan, kecuali orang yang imannya juga sebenar-benarnya iman.
Orang-orang yang telah Kami beri Kitab, mereka membacanya sebagaimana mestinya (يَتْلُوْنَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ), mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.
(QS. Al-Baqarah 121).
Jika membacanya merupakan langkah pertama, kita dituntut untuk menjaga kualitas iman untuk tetap di level atas, lantas bagaimana ketika menghafalnya? Menadabburinya? Mengamalkannya? Mengajarkan dan mensyiarkannya?
Saatnya kita mulai membuktikan kecintaan kita kepada Allah dengan totalitas berinteraksi dengan Al-Qur’an. Di sinilah dibutuhkan kesungguhan dan kesabaran kita dalam hal tersebut.
Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: "Bacalah Al-Qur'ān, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengadzab hati yang sadar akan Al-Qur'ān. Sungguh ia adalah hidangan (jamuan) dari Allah subhanahu wa ta’ala, maka siapa yang masuk ke dalamnya, ia akan terjaga dan siapa yang mencintainya, maka bergembiralah."
Mungkin, kita masih belum sampai di tahap ini, namun kita berusaha dan meminta pertolongan Allah dengan maksimalnya ikhtiar kita semoga Allah ijinkan kita mengecap nikmatnya cinta terhadap jamuan Allah tersebut. Aamiin allahumma aamiin.
Sumber:
_Al-Qur'ān al-Kariim_
_Bagaimana Berinteraksi dengan Al-Qur’an_ (Dr. Yusuf al-Qaradhawi)
_Kun Bil Qur'ani Najman_ (Saihul Basyir)

0 Comments