Chapter #4: Ulama pun Mempelajari Adab

August 15, 2022

 


Orang sangat terpengaruh dengan sikap dan attitude sekelilingnya. Kalau ia di kelilingi oleh firman-firman Allah, sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alahi wa salam, siroh dan perjalanan para ulama, pasti ada pengaruh. Pastinya akhlaknya terpengaruh Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam. 

Hasan Al-Bashri: "Beradablah dengan adab-adab yang Allah tunjukkan di dalam Al-Qur'anul karim dan melalui Nabinya shallallahu 'alaihi wa salam."

Para penuntut ilmu, orang-orang yang mengejar majelis ta'lim, harus menjadi orang yang paling baik akhlaknya, paling lembut perangainya, paling jarang marahnya, paling stabil karakternya, karena mereka senantiasa berinteraksi dengan firman-firman Allah dan hadist-hadist Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam dan praktek para ulama. 

Kita punya kaidah:

"Umat ini nggak akan jadi baik, kecuali dengan apa yang membuat umat terdahulu baik."

Kita harus mengikuti metode mereka. Kita harus mempelajari apa yang mereka pelajari. Kita harus memulai dengan apa yang mereka mulai. Kita harus mengkaji apa yang mereka kaji. Kalau hanya sekedar slogan, hijrah hanya akan menjadi sesuatu yang instan. 

Muhammad bin Sirrin: "Mereka para sahabat, tabiin, mempelajari adab dan akhlak sebagaimana mereka mempelajari ilmu." 

Mereka mempelajari adab seperti halnya mereka belajar hukum rukun shalat, tatacara wudhu, syarat-syarat zakat, manasik haji nabi, bab muamalah, bab nikah, di samping belajar itu semua mereka juga belajar adab. Makanya mereka kuat, karena pondasi mereka itu kokoh, jadi mereka nggak hanya jago secara teori, tapi benar-benar ilmu itu hidup di dalam kehidupan mereka. 

Al-Imam Ashim: "Saya memperhatikan lisannya Ibnu Sirrin, kemana-mana lisannya pasti tidak pernah lepas dari subhanallah wabihamdih subhanallahil adzim."

Kenapa? Karena lisannya bersih, nggak suka nyerang orang, makanya lisannya bersih.

Jarir bin Hazim: "Aku pernah bersama Muhammad bin Sirrin, disebutkanlah seorang. Lalu Muhammad bin Sirrin spontan nyeletuk, orang itu kulit hitam. Langsung beliau tersadar dan mengucapkan innalillah, aku baru saja menggibahi dia."

Spontan, tidak untuk mencela tapi untuk mengidentifikasi seseoranf. Langsung nyesel detik itu juga. Kenapa? Karena belajar adab, belajar akhlak, jadi nggak nyaman keceplosan, kalau orang itu dengar dia nggak suka. 

Adz-Dzahabi: "Ibnu Sirrin pernah berkata suatu hari, aku pernah mengatakan kepada seseorang, wahai orang yang bangkrut (bisa secara harta atau pahala)." Nggak lama kemudian aku dihukum oleh Allah. Lihat mental menyalahkan diri sendiri. Mental muhasabah. Nggak suka mencari kambing hitam. Adab ketika ada masalah, kembalikan ke diri sendiri. Kebiasaan hari ini merasa diri bersih, merasa diri suci. Terkadang pas kajian yang kita ingat itu teman kita, "Eh iya bener temen gua banget tuh tadz." Kok temen gua, gua harusnya. Tapi temen gua lagi, temenku lagi. Kita tuh belajar untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Dalam arti tidak untuk menembak orang lain, tapi untuk diri kita. 

Jadi ulama itu belajar. Bukan sekedar konsep, pemberian atau karomah, atau gift. Enggak, ini tuh belajar. Mereka belajar adab sebagaimana mereka belajar ilmu. Begitu ada masalah, kembalikan ke dosa, kembalikan ke dosa. Misal dalam rumah tangga, suami istri menggunakan konsep ini, cerai nggak tuh? Enggak. Suami kembalikan ke dirinya, istri kembalikan kepada dosa dia. 5 menit selesai. Kenapa masalah 1 jadi 3 hari? Karena suami nyerang istri, istri nyerang suami. Bagaimana bisa selesai kalau saling menyalahkan. Kalau semua penuntut ilmu punya mental seperti ini, clear masalah kita. Yang jadi masalah adalah ketika kita sudah pintar menyalahkan orang lain dan lupa menyalahkan diri kira sendiri. 

Di antara kehebatan Ibnu Sirrin kalau ngumpul-ngumpul, lalu teman-teman ngumpulnya menyebutkan keburukan-keburukan seseorang, maka beliau akan menyebutkan kebaikan orang tersebut, itu dibela nggak ingin menjelekkan seseorang. Dia nggak ngegoreng, dia sebutkan yang terbaik dari orang tersebut. Dan Ibnu Sirrin terkenal dengan birrul walidain, kelembutannya kepada ibunya. 

Ibnu 'Awun: "Muhammad bin Sirrin kalau bersama ibunya, dan kalau ada orang yang belum kenal dengan Muhammad bin Sirrin melihat beliau bersama ibunya, maka mereka akan berpikir Muhammad bin Sirrin lagi sakit, karena melihat kecilnya suara Ibnu Sirrin ketika bersama ibunya."

Turunkan kepakan sayap ketika bersama orang tua (QS. Al-Isra). Jangan bawa-bawa status, jabatan, tawadhulah di hadapan orang tua.

Ilmu dan adab bisa berjalan paralel. Komprehensif, secara ilmu mereka tajam, di waktu yang sama mereka indah dengan adab & akhlak mereka. 

 

Abdurrahman bin Mahdi berkata, "Kita ini sering pergi ke seseorang, duduk di majelis, kita nggak ingin ilmunya, ilmunya udah ada di kepala kita. Kita nggak ingin ilmu akidahnya, nggak ingin ilmu sholatnya, nggak ingin ilmu wudhunya, nggak ingin ilmu thaharahnya, nggak ingin ilmu zakatnya, nggak ingin ilmu puasanya, kenapa? Karena semuanya udah ada. Trus ngapain duduk di majelis? Kecuali kita ingin mempelajari akhlak & perangai orang tersebut. Senyumnya gimana sih? Cara nyambut tamunya gimana? Cara menyapanya gimana? Artikulasi & kata-kata apa yang dipilih. Dan itu yang dilakukan oleh salah satu imam Bukhari, Ali bin Madini dan beberapa teman-temannya, mereka duduk di majeli ilmunya Yahya bin Said al-Qatan. Mereka nggak ingin mempelajari ilmu hadistnya Yahya bin Said al-Qatan, karena siapa yang nggak tahu ilmunya Ali bin Madini, ulama besar. Tujuan duduk di majelis Yahya bin Said al-Qatan adalah mereka ingin mempelajari akhlak & perangainya. Duduk, tawadhu, padahal secara ilmu mereka lebih di atas pembicara. Tapi mereka ingin belajar adab, belajar akhlak. Mereka ingin belajar sakinah, dimana bisa tenang. 

Dan ini juga terjadi di majelis ilmunya Imam Ahmad, sebagaimana yang disampaikan oleh Adz-Dzahabi. Para ulama mengatakan, "Dulu yang duduk di majelisnya Imam Ahmad, itu sampai 5.000 atau lebih, ternyata yang nyatet cuma 500 orang. Sisanya 4.500 sibuk mengamati gerak-geriknya Imam Ahmad. Akhlaknya, cara bicara, bagaimana menyampaikan materi yang ilmiah tapi santun, ilmiah tapi tidak membuat orang tersinggung, bagaimana cara menghadapi murid yang kalau nanya nggak beradab, bagaimana cara menjawab pertanyaan yang mungkin sensitif tetapi dijawab dengan elegan & bijak.

Menghadapi murid yang bicara sendiri, yang tidur, itu akhlaknya Imam Ahmad seperti apa diamati oleh 4.500an orang. 

Adab itu mahal, seperti ilmu itu mahal. Ini yang memastikan orang tidak munafiq. Kan kata Nabi apa?

"Ada 2 sifat yang tidak mungkin akan bersatu di dalam diri orang munafiq, yang pertama akhlak yang mulia, yang kedua ilmu agama yang benar."

Kalau dua itu bersatu, antum dipastikan bukan termasuk orang munafiq. Tapi kalau baru punya satu, bisa jadi kita munafiq, na'udzubillah. Kalau cuma jagi teori, jago beretorika, jago menyampaikan ayat, hafal hadist, tapi, akhlak nya nol besar, bisa jadi kita munafiq. Makanya mereka kejar, karena adab itu mahal.

Ucapan Imam Hasan Al Bashri, ketika beliau menyatakan bahwa,  beliau & para ulama terdahulu, sampe safar untuk mempelajari adab & akhlak. Dan terbukti mereka benar-benar menjadi orang yang luar biasa karena effortnya pun luar biasa. Dan semua bukan instan. Dengan belajar, nyari, ngejar orang-orang yang berakhlak mulia. Makanya mereka bisa seperti itu.

Hasan Al-Basri akhlaknya luar biasa. Sebagai contoh, ada seseorang yang menggibah beliau, aib beliau dibuka, kekhilafan atau kekeliruan beliau dibuka. Apa yang beliau lakukan? Maka beliau membawakan makanan kepada orang yang menggibahi beliau. Lalu beliau katakan, "Engkau baru saja menghadiahi diriku pahala-pahalamu dengan engkau ghibahi diriku, maka aku ingin membalasnya dengan makanan-makanan ini."

Mohon maaf pemberian saya tidak setimpal dengan pemberian anda. Ini adalah hasil pembelajaran bertahun-tahun. Tempel ahli ilmu atau ulama yang akhlaknya baik bertahun-tahun, baru bisa kayak begini. Karena jalan pintas menuju kesuksesan itu nggak ada.

Sufyan bin Uyaina seorang ulama besar menyatakan, "Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam adalah parameter tertinggi, timbangan tertinggi. Segala sesuatu ditimbang dengan parameter beliau. Ditimbang berdasarkan standar beliau. Yang beliau lakukan, apa yang ada pada diri beliau itu paramaternya, baik akhlak beliau, sejarah kehidupan beliau, petunjuk beliau, itu semua parameter. Apabila sebuah hal atau sebuah sikap sesuai dengan apa yang ada di dalam diri beliau, maka itulah kebenaran. Dan apa yang menyelisihi beliau itulah kebathilan."

Kenapa Imam ibnu Jama'ah memasukan riyawat ini di dalam pembahasan beliau? Karena Imam ibnu Jam'ah ingin berpesan bahwa, jika ingin mengikuti sunnah Rasulullah, maka ikutilah secara kaffah, totalitas. 

Sebagian orang mengklaim sudah mengikuti sunnah, itu baru hanya dari sisi penampilan. Meski itu bagus. Atau dari sisi shalat. Shalat ibadah terbaik setelah syahadatain dalam islam, tapi jangan hanya sebatas shalat. Karena semua yang ada pada diri beliau itu adalah parameter kebenaran. Tidak hanyak shalat, dzikir, cingkrang, niqob, tapi juga akhlak beliau. Itu baru mengikuti sunnah secara kaffah. Jadi kalau shalatnya mengikuti Nabi, maka lisannya juga harus mengikuti Nabi. Manajemen emosinya, nggak bapernya, gimana mudahnya memaafkan orang lain, juga harus mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa salam.

Ibnu Taimiyah dan beberapa ulama aqidah menyatakan, ketika masalah akhlak dimasukkan ke dalam prinsip-prinsip dasar ahlu sunnah wal jama'ah, masalah akhlak bukan masalah furuq, tapi masalah ushul. 

Ahlu sunnah wal jama'ah sangat meyakini sabda Rasulullah, "Orang mukmin yang paling sempurna imannya, yang paling baik akhlaknya."

Akhlak mulia itu parameter keimanan. Oleh karenanya, jika kita mengaku sebagai ahlu sunnah wal jama'ah, kalau kita mengaku mengikuti sunnah Rasulullah, kita harus belajar adab. Ini masalah prinsip, masalah pokok.

You Might Also Like

0 Comments