Chapter #5: Wahai Anakku, Belajarlah Adab dari Mereka
August 17, 2022
Muhammad bin Sirrin, "Mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu." Ucapan Muhammad bin Sirin serupa dengan Abdullah bin Mubarak, "Mereka dulu mempelajari adab sebelum mempelajari ilmu." Itulah metodologi para sahabat, tabi'in. Dan jangan lupa ucapan Imam Malik, "Umat ini tidak akan baik, kecuali dengan resep yang membuat umat terdahulu baik." Kenapa demikian? Karena jika rumusnya sama, maka hasilnya juga akan sama. Dan ini metode mereka dalam belajar, dalam menuntut ilmu agama.
Ulama terdahulu bahkan rela safar untuk mempelajari adab. Rela safar untuk mempelajari kehidupan real dari para ulama. Seperti yang dikatakan Hasan al-Bashri yang dilakukan oleh Imam Ibnu Mubarak dan ulama-ulama yang lain. Dan ternyata metodologi ini, itu mereka pupuk dari kecil. Mereka membangun anak-anak mereka dengan konsep ini. Mereka sangat memperhatikan adab untuk anak-anak mereka. Mari kita simak beberapa penjelasan mereka tentang masalah ini:
Al-Imam Habib bin Syahid berkata kepada anaknya Ibrahim, "Wahai anakku, bersahabatlah dengan fuqaha (pakar-pakar fiqih), dan bersahabatlah dengan para ulama, dan belajarlah dari mereka. Dan ambillah adab-adab mereka, karena itu lebih aku sukai daripada banyaknya hadist-hadist yang engkau kuasai."
Kenapa mereka menekankan masalah adab? Karena para ulama kita menyatakan bahwa salah satu kewajiban orang tua itu mengajarkan adab kepada anak.
QS. At-Tahrim ayat 6: Wahai orang-orang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka.
Salah satu tafsir bagaimana menjaga diri & keluarga dari siksa api neraka adalah dengan mengajarkan adab kepada mereka. Dan setiap ayah & ibu akan ditanya sama Allah.
Ibnu Umar ketika melihat anak si fulan tidak menjaga adab, beliau nasehati, "Perbaiki adab anakmu, karena engkau akan ditanya pada hari kiamat oleh Allah."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu sdan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu."
Maksudnya kita makan di satu nampan, itu lauknya sama, ambil dari yang ada di dekat kita. Tapi kalau lauknya berbeda, boleh dikumpulkan di tengah-tengah di bagi.
Namanya juga anak kecil.... Nanti kalau udah gede juga tau. Enggak.. semua mulai dari kecil. Semua mulai dari pondasi, kalau pondasi rapuh nanti kalau dewasa susah.
Lanjut Ibnu Umar, "dan anakmu itu nanti pada hari kiamat oleh Allah tentang baktinya kepada dirimu."
Artinya apa? Berbaktinya anak kita ketika mereka dewasa itu tergantung bagaimana kita mendidik adabnya ketika dia kecil.
Sufyan Ats-Tsauri pernah mengatakan, "Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan oleh orang tua, memperbaiki adab-adabnya."
Banyak orang tua yang berpikir yang penting aku sudah nyekolahin anak-anakku. Nggak cukup, adabnya harus diperbaiki. Bagaimana anak bersikap di rumah, bagaimana anak bersikap di Masjid, bagaimana anak itu ketika bertamu, gimana anak itu ketika shalat, itu harus diajarin adab-adabnya. Kalau nggak, kita dzalim sama anak kita.
Dan kalau nggak kita ajarin, besarnya akan durhaka kepada kita. Dan dia akan merepotkan kita pada hari kiamat.
Ibnu Qayim ra. Menjelaskan bahwa, "Banyak para ulama mengatakan bahwa orang tua pada hari kiamat akan ditanya oleh Allah sebelum anaknya."
Kenapa demikian? Karena mayoritas anak baik buruknya tergantung pendidikan yang engkau berikan ketika mereka kecil. Jadi yang bertanggung jawab ditanya duluan.
Sufyan ats-Tsauri juga mengatakan, diantara hak anak yang wajib ditunaikan oleh kedua orang tuanya:
1. Memberikan nama yang bagus
2. Dinikahkan jika sudah baligh
3. Dihajikan anak kita
4. Adabnya dididik dan diperbaiki
Sedikit kita berbicara tentang ucapan Sufyan at-Tsauri. Banyak ikhwan & akhwat ketika hijrah atau taubat, atau orang tuanya dapat hidayah di usia 40/45 tahun begitu hijrah lalu baca riwayat disunnahkan untuk menikahkan anak lebih cepat lebih baik, langsung buru-buru pada nikah. Dan itu terjadi. Boleh ustadz? Boleh, nggak ada masalah. Tapi yang perlu kita renungkan bersama-sama para ulama itu banyak yang nikah muda. Tapi basic mereka kuat, mereka dididik dari kecil. Mereka diajarkan iman dari kecil. Ex: 'Aisyah dalam menghadapi hadistul ifki. Bandingkan 'Aisyah & anak-anak sekarang dalam menghadapi.
Banyak di antara kita yang diambil nikah usia mudanya aja. Adapun pendidikan adab dan agamanya blank. Baru hijrah sebulan yang lalu nikah.. Nggak ngerti apa-apa. Akhirnya bermasalah.
Bagaimana adabnya kepada suami, kepada istri, kepada keluarga pasangan setelah menikah, adab kepada orang tua setelah menikah, itu mereka udah paham. Karena pendidikannya jelas, dari awal sejak usia dini. Nah, kita nggak ngalamin itu tiba-tiba langsung baca keutamaan-keutamaan nikah, langsung nikah. Nggak bisa, makanya banyak masalah. Walaupun yang sukses juga banyak, namun pengalaman kami yang sangat terbatas ini, banyak kendala.
Habib bin Said mengatakan, "Bersahabatlah dengan para fuqaha & ulama."
Apa arti fuqaha? Ibnul Qayyim ra. Mengatakan, "Faqih atau ahli fiqih jika framenya adalah terminologi salaf itu maksudnya adalah orang-orang yang menggabungkan antara ilmu & amal."
Ini penting. Kalau kita ingin sukses & bertahan di dunia ilmu, kita ingin bertahan dalam hijrah kita, kita ingin dapat anak yang shaleh, itu bergaulah dengan orang-orang yang menggabungkan antara ilmu & amal.
Antum & anak antum juga harus bergaul. Abu Jahiya mengatakan, "Duduklah bersama orang-orang besar, dan bergaullah dengan para ulama, dan berinteraksilah dengan orang-orang yang bijak."
Abu Darda beliau pernah mengatakan, "Salah satu fiqihnya (kecerdasan/dalamnya pemahaman) seseorang, itu kalau saat dia berjalan, saat dia masuk, saat dia keluar, itu selalu bersama ahli ilmu." Orang seperti itu cerdas kata Abu Darda.
Kenapa? Bukan untuk menjilat, tapi untuk berguru. Berguru maqomnya lebih tinggi daripada ngaji. Ngaji bagus, datang ke kajian bagus. Tapi maqom yang lebih tinggi, berguru, dengan seorang alim. Maksud berguru apa? Nempel. Lalu antum pelajari gerak-geriknya, sikapnya, cara menghadapi masyarakat, gimana ngadepin masalah, gimana ketika didzalimi orang, gimana cara berpakaian, cara duduk, nasehatin orang, cara nyikapin bully, cara merespon orang yang kasar sama dia, yang suudzhon sama dia. Jadi bukan hanya belajar di forum seperti ini, tapi di luar forum.
Itu kalau bisa seperti itu, itu peluang antum istiqomah besarnya luar biasa. Kenapa sahabat bisa menjadi generasi terbaik, itu karena berguru dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Apakah mereka memanfaatkan majelis di dalam forum seperti ini, kan enggak. Kenapa Abdullah bin Abbas bisa seperti itu? Karena sering jalan sama Nabi. Kenapa Ibnu Mas'ud bisa luar biasa, karena nempel sama Rasulullah. Kenapa Abu Bakar ra. Menjadi manusia terbaik setelah generasi para nabi dan Rasul? Karena Abu Bakar adalah orang yang paling sering bersama Rasul. Hijrah & safar sama beliau. Ini nasehat para ulama. Yang kita butuhkan adalah resep dari mereka. Langsung dari lisan-lisan mereka. Makanya kita baca buku-buku mereka.
Muhammad bin Sirrin, beliau yang mengatakan, "Mereka mempelajari adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu." Dikesempatan lain beliau juga mengatakan, "Beliau itu mengutus seseorang untuk memperhatikan gerak-gerik al-Qasim (Cucu Abu Bakar, salah satu dari 7 fuqaha terbaik di kota Madinah di zaman tabi'in) dan bagaimana sikapnya sehari-hari."

0 Comments